
Menanggapi artikel seseorang dengan inisial FE yang dimuat di Pikiran Rakyat yang terbukti plagiat karena merupakan hasil penggabungan beberapa tulisan orang lain yang dikutip tanpa mencantumkan sumber, dalam hati saya berkomentar, berani benar ya orang ini, mencontek tulisan orang lain dari internet, yang jelas mudah di akses siapa saja, lalu mengirimkannya ke surat kabar, yang juga sudah jelas media publik yang bisa dengan mudah di baca orang, tanpa pernah berpikir bahwa tindakannya pasti akan cepat diketahui dan ujung-ujungnya hanya akan mencemarkan namanya sendiri.
Terpikir pula, jika masih saja ada orang nekat semacam itu yang berani mempublikasikan tulisan plagiatnya, bisa dipastikan masih banyak orang-orang yang berani mengutip tulisan tanpa izin meski bukan untuk dipublikasikan ke khalayak umum secara luas, entah itu berupa tugas sekolah/kuliah, makalah, karya tulis, skripsi, dan lain sebagainya. Dan itu artinya mereka adalah pihak-pihak yang lebih senang cari gampangnya saja tanpa mau bersusah payah dan lebih bangga bukan dengan sesuatu yang dihasilkan dari kerja kerasnya sendiri.
Teringat juga bahwa masih selalu saja ada dan terjadi cerpen yang dicontek orang, puisi yang disalin ulang, artikel hingga opini yang dikutip mentah-mentah . Belum lagi sudah tak terhitung banyaknya cerita film, sinetron yang disadur tanpa mencantumkan sumber cerita aslinya berasal dari mana.
Apakah hal ini memang sudah menjadi bagian dari budaya? Budaya contek-mencontek, tidak menghargai hasil karya orang lain, dan senang cari gampangnya saja?
Entah, saya tidak ingat lagi apakah dulu setiap kali guru-guru sekolah memberi tugas yang berhubungan dengan tulis-menulis pada murid-muridnya, mereka terlebih dahulu menerangkan etika tulis menulis yang benar secara terperinci dan jelas? Juga mengingatkan bahwa jangankan mengutip opini yang jelas tertulis, mengakui opini yang keluar secara lisan dari pihak lain sebagai hasil pemikiran sendiri saja sudah merupakan satu kesalahan?
Yang saya ingat adalah demi menghindari acara kopi mengkopi tugas yang dengan mudah dilakukan dengan sistem copy paste menggunakan komputer, alih-alih memberi tugas yang harus diketik rapi dengan komputer, beberapa dosen lebih senang memberi tugas yang harus diketik dengan menggunakan mesin tik atau bahkan harus ditulis tangan saja. Dan walaupun cara ini tidak sepenuhnya menghilangkan kebiasaan contek-mencontek tugas, para dosen berpikir setidaknya jika mencontek pun tidak asal copy paste tanpa membaca, tapi menyalin ulang dengan mengetiknya atau menulisnya kembali memberi peluang sang pencontek untuk setidaknya membaca apa yang disalinnya.
Mengapa harus bangga dengan hasil contekan? Mengapa tidak bisa berbangga hati dengan karya hasil jerih payah sendiri? Mengapa tidak ada rasa malu mengakui karya orang lain sebagai milik sendiri?
Kebiasaan ini sepertinya sudah mengakar dan sulit dihilangkan.
Lalu, jika sudah begini siapa yang harus disalahkan?
*gambar dari sini