Kekerasan pada Anak-anak. Trend atau Fenomena?

12 April 2008
Melirik sekilas pada salah satu artikel di surat kabar... *sigh* Kekerasan pada anak-anak, masih juga jadi bahan berita. Apa karena anak-anak adalah makhluk lemah yang tidak berdaya, lantas bisa diperlakukan seenaknya? Bukankah fakta itu harusnya justru menjadi alasan untuk melindungi dan menyayangi mereka?

Dari tahun ke tahun kasus kekerasan pada anak-anak tetap saja ada. Ada banyak bentuk kekerasan pada anak-anak. Saya jadi ingat dulu sekitar tahun 2003-2004 sedang marak2nya kasus perkosaan (=kekerasan seksual) yang terjadi pada anak-anak bahkan balita. Tapi, kali ini yang saya mau bahas adalah kekerasan dalam arti perlakuan kasar terhadap anak, yang terjadi di lingkungan keluarga, tempat pertama di mana seorang anak seharusnya mendapat kasih sayang.

Pernah liat tayangan The Nanny 911 di Metro TV? Acara diawali dengan tayangan sebuah keluarga yang bermasalah dengan tingkah laku anak2nya yang secara langsung juga menunjukkan masalah yang dialami orang tua dalam mendidik anak mereka. Dan kalau sudah melihat tayangan itu saya jadi geleng-geleng kepala. Rasanya jadi geram juga melihat ada orang tua yang memarahi anaknya dengan teriakan2 tidak terkontrol dan volume suara yang edan2an, tidakkah mereka sadar bahwa kekerasan verbal pun bisa membuat sang anak mengalami gangguan/trauma psikologis? Apalagi kalau hal itu diikuti juga dengan kekerasan fisik.

Lalu, apa yang menjadi alasan orang tua bersikap seperti itu? Tingkah laku anak yang tidak terkendali kah? Rendahnya kemampuan orang tua dalam mengontrol emosi? atau memang sudah menjadi kebiasaan para orang tua, untuk, atas nama kekuasaan, memegang kendali terhadap anak dengan hanya mementingkan egoisme diri semata tanpa ada keinginan untuk memahami jiwa sang anak?

Jika ditelaah lagi, kasus kekerasan pada anak-anak ini berhubungan sebab-akibat dengan masalah kekerasan anak (=kekerasan yang dilakukan anak-anak). Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa ada 3 hal yang mempengaruhi kekerasan yang dilakukan anak-anak, yaitu televisi, lingkungan sekolah, dan lingkungan rumah(Lihat sini). Tentu saja, pengaruh buruk bisa diperoleh sang anak di manapun di luar lingkungan rumah, yang akhirnya mengakibatkan sang anak meniru tingkah laku buruk seperti memukul, menendang, melempar barang, tapi tetap saja filterisasinya ada di lingkungan rumah. Jika lingkungan rumah saja tidak bisa dijadikan contoh yang baik bagi anak, bagaimana jadinya masa depan mereka? Artinya, masalah ini berujung pangkal pada masalah bagaimana cara mendidik anak, tanpa kekerasan.

Lalu bagaimana cara mendidik anak tanpa kekerasan itu? Jawaban alternatifnya saya baca2 dari sini. Saya belum punya pengalaman yang real soal itu. Dengan membahas masalah ini, saya sadar bahwa memiliki anak bukan semata untuk membuat hidup menjadi sempurna (lulus sekolah/kuliah – bekerja – menikah – punya anak = sounds perfect, doesn’t it?). Mendidik anak itu tidak gampang, tanggung jawabnya pun besar.