Jujur saja, rencana menyepi sepertinya tidak membawa hasil. Kenyataan yang terjadi adalah pikiran saya masih sering kusut, hidup saya tidak mengalami kemajuan apapun yang cukup signifikan, dan saya masih juga belum mampu menata ulang hidup seperti yang seharusnya dilakukan. Memang sih, hidup saya ini tidak berantakan-berantakan amat..tapi kalau saya biarkan begini terus, lama-lama itu sama saja dengan membiarkan diri saya jalan di tempat. Dan saya tak mau itu terjadi.
Sayangnya, untuk saat ini saya hanya bisa pasrah melihat hidup mengalir sedemikian rupa, apa adanya, seperti biasanya dengan bonus beberapa “kejutan tak menyenangkan” yang terjadi. Berawal dengan kenyataan bahwa saya harus merelakan seseorang hanya menjadi mimpi selamanya untuk saya. Dan di saat saya mampu untuk benar-benar rela tetap saja saya jadi merasa sendirian, sedikit merasa kehilangan, dan sedikit merasa iri dengan hidupnya yang nyaris sempurna. Dan selanjutnya, saya akhirnya terpaksa membuka mata terhadap banyak kenyataan pahit dalam hidup yang membuat ketakutan-ketakutan akan hidup yang saya rasakan, yang rencananya ingin saya buang jauh-jauh, malah semakin membesar. Pada akhirnya, pikiran saya yang bertambah penuh sesak membuat saya merasa semakin tak menentu.
Nampaknya kali ini, saya hanya bisa menghela nafas dan bersabar. Barangkali, kejutan yang lebih menyenangkan akan segera terjadi dalam beberapa waktu ke depan, dan tentu saja, sedikit perubahan untuk hidup saya. Semoga.
Apa yang kupikirkan? Apa yang kurasakan? Rasanya semua sudah menjadi kabur dan tak lagi nyata. Tak jelas, dan tanpa arah. Pikiran dan perasaan ini sudah terlalu penuh dengan banyak warna. Warna-warni dunia yang telah menjelmakan imajinasi semu yang seringkali tidak dengan mudah bisa beranjak ataupun dipaksa untuk pergi dan menghilang. Terhempas namun ada dan saling berhimpitan, mendesak ke dalam angan, menyelusup dalam akal, menetes ke dalam celah kalbu dan perasaan, hanya untuk menjadi sesuatu yang tak pasti dan tak menentu. Segalanya menjadi satu spekulasi semata. Dan aku tetap tak mengerti kenapa dan harus bagaimana.Ingin pergi dan menghilang.
Bukan maksudnya menjadi pecundang dengan lari dari semua kenyataan hidup yang harus dihadapi dengan kepala tegak. Hanya ingin menyepi sesaat. Waktu memang tak bisa begitu saja diputar sekehendak hati, karena itu aku mengalah, mengalah pada putaran waktu. Terserah, apapun yang harus terjadi, terjadilah. Tapi, tentu bukan berarti aku tinggal diam berpasrah diri membiarkan hidup menjadi sia-sia. Harus menata ulang hidup, dan aku memulainya dengan ini. Mencoba menetralisir segala macam pikiran-pikiran aneh yang lebih banyak didominasi ketakutan akan kenyataan hidup itu sendiri dan mulai berdamai dengan berbagai macam perasaan yang begitu saja hadir seiring dengan berlalunya waktu
Semua yang terjadi bukan untuk ditangisi, apalagi untuk disesali. Dan aku hanya ingin sejenak berhenti untuk mencari dan menyatukan kembali keping-keping asa dan segenap pemahaman yang pernah sirna.
Demi hidup.
Subscribe to:
Posts (Atom)