Time will heal..

31 May 2008
Hehe.. akhirnya nulis lagi deh. Entah kenapa beberapa minggu terakhir ini saya ngerasa kecapean banget, hiks! Plus banyak pikiran kyknya, entah mikirin apa saya juga gak ngerti =p yang jelas itu bikin kinerja otak saya jadi kacau balau hingga setiap kali mulai (maksain) buat nulis yang ada baru satu paragraf aja udah ngerasa mentok, otaknya seret gituh, serasa aja bikin essay ato makalah haha.. beneran.. even nulis hal2 biasa yang terjadi sehari-hari atau perasaan yang lagi saya rasain di diary manual aja gak bisa. So weird!! Hmm.. gak juga siy.. yah sepertinya saya hanya kurang tidur ajah jadi butuh istirahat.. aaahhh…manja hehe.
Jadi, maap buat yang sudah bolak-balik berkunjung ke rumah ini dan berharap ada update-an terbaru akhirnya terpaksa menelan kecewa :)

Dan hari ini, saat ini.. meski teteup masih juga kurang tidur dan cuman sempet tidur beberapa jam semalam, saya lagih ngerasa FRESH :) tp bukan berarti lagi seneng.. okay, kalo mau jujur sebenernya ada beberapa hal yang masih juga betah nyangkut di pikiran saya ini.

satu
Kadang saya sebel dan ngerasa gak betah sama kerjaan saya yang sekarang. Iya saya tau harusnya saya bersyukur mengingat sangat tingginya data statistik jumlah pengangguran di Jawa Barat ini, saya masih bisa.. masih bisa jadi orang yang gak termasuk dalam daftar itu, hihi. Ya gitu, namanya juga manusia seringnya gak puas, tapi…saya juga gak ngerti gak puas apanya?? Hhhmmpffh, mungkin saya hanya HARUS nemuin kerjaan dan suasana kerja yang cocok ajah. Tapi apa iya bisa? Namanya juga jadi kuli, mana ada yang enak >_<

dua

Saya udah berjanji dan berusaha untuk ngelupain masa lalu dan mulai lagi lembaran-lembaran baru dalam hidup saya.. tapi masih aja satu hal itu tertinggal..ketinggalan..membekas..ato apalah itu namanya ya intinya masih juga ngikut-ngikut. Perasaan sakit hatinya saya sama satu cowok, yang sayangnya, pernah saya sayang. Harusnya saya maafin, memang, kalo dia mau minta maaf sama sayah sambil sujud-sujud, huehehe.. nah, masalahnya itu gak mungkin banget terjadi secara dia nganggep saya ini sampah seolah saya ini makhluk paling najis tanpa melihat kesalahannya sendiri. *
sigh*

tiga
Ada saat-saat dimana saya merasa asing dengan diri saya sendiri, seolah itu bukan saya, ato gak percaya saya bisa melakukan sesuatu hal. Kalau hal yang baik emang gak jadi masalah tentu, tapi hal yang jelek?? Tiap orang punya banyak sisi dalam hidupnya, sepertinya begitu ya. Ah, tapi tetep aja membingungkan, seperti di saat dulu, di mana saya melakukan sesuatu hal yang saya pikir itu adalah sisi lain dari diri saya tapi sebenernya gak seharusnya saya lakukan, coz it’s just a fake, I just imitated others, perhaps. So, makanya sekarang saya berusaha keras buat membenahi diri sendiri dan tetep HARUS jadi diri sendiri.
Just be your self!! Terkesan gampang padahal prakteknya susah. Harus kenal diri sendiri dulu sebelum kenal orang lain, harus ngerti diri sendiri dulu sebelum bisa ngertiin orang lain, harus sayang sama diri sendiri dulu sebelum sayang sama orang lain.

Hmm.. jadi inget, sahabat saya pernah bilang…
that I had always been such a complicated friend for her.. semuanya complicated.. pikiran saya.. jalan hidup saya.. semua yang terjadi sama saya, nasib saya, soal keluarga, soal temen, soal cowok…kecuali satu hal…nilai kuliah saya yang gak pernah bermasalah, haha. Yeah, you know, I’ve been in some miseries for years.. and now here I am.. I’m now quite happy with what I have, appreciating what I get, and still.. fighting for what I have dreamt of. Hmmppfhh..this year is a new beginning… saya berusaha memperbaiki semuanya, iyah semua-semuanya dan mulai dari awal lagi…dan syukurlah, it seems that God consents to this. Moga aja ya everything will run smoothly from now on.. ahh.. gak bisa gitu juga ya,, the wheel turns, jadi harus siap-siap juga, unexpected things might happen.
Hehe.. apaan siy saya koq jadi curhat =p

Btw, this is Saturday!!! To all of you: happy Saturday night yah :)
Have a nice weekend juga.

Di Persimpangan Jalan

17 May 2008
Selalu ada masa di mana manusia harus berada di persimpangan jalan. Berhadapan dengan pilihan. Dan jalan lurus yang dipilih tak berarti juga tanpa noda, tanpa cela, tanpa resah, dan tanpa masalah. Berbelok adalah suatu tantangan. Memutar arah dan mencari celah dalam lika liku persinggahan yang kerap menyampirkan lebih banyak beban dan kegundahan dalam benak.

Jalan ini bukan tanpa ujung. Dalam setiap lekuknya ada persimpangan demi persimpangan. Dan di sanalah tujuan demi tujuan jua diciptakan, menuju satu akhir pemberhentian.

Temaram menjadi kelam
Pendaran cahaya itu hilang dalam lelahku berkelana dengan kepingan jiwa yang hampa
Yang tertinggal adalah kekosongan
Riak-riak duka dan kegelisahan yang semakin merajam tak mampu lagi kulawan
Aku diam..
Bertahan..
Dalam gelap pekat di mana tak ada lagi persimpangan yang bisa kulihat
Titik titik keangkuhan pun lenyap sekejap
Terbasuh kesadaran atas lemahnya kuasa dan dangkalnya pikiran

Persimpangan jalan ini boleh saja semakin menjepit, tapi akal tak boleh sakit. Jalanan sempit bisa terlewati karena akal termiliki. Namun adakalanya jalan yang terbentang luas terlewatkan hanya karena akal yang menyempit..

Dan hanyalah kodrat dan iradat-Nya
Yang mampu memetakan jalan lurus
Dan meresapkan nafas-nafas hakiki dalam denyut pengembaraan suci

Lihatlah Lebih Dekat!

03 May 2008
Menyisir area pusat kota di sore hari... orang-orang sibuk hilir mudik, kendaraan berlalu lalang, sopir-sopir dan tukang becak berebut mencari penumpang, para pedagang mengoceh menawarkan dagangannya, pemulung mengais di tong-tong sampah, pengemis-pengemis menengadah tangan mengiba, gelandangan tertidur di pinggiran jalan…

Dengan sedikit peluh dan penat, aku melangkah.. areal taman Masjid ini sepertinya semakin lama semakin berjejal dan berantakan saja, pikirku. Semakin banyak pedagang di sini, entah kenapa dibiarkan saja, padahal bukankah dalam agama Islam ada larangan melakukan perniagaan di wilayah masjid.. hhmmpfh.. tapi mereka kan berdagang untuk mencari nafkah hidup, kalau dilarang kasihan juga,, mungkin sebaiknya perlu diberi tempat khusus saja,,,heh,, kerjaan siapa ini, salah siapa ini?? salah penataannya kali.. kenapa juga pedestrian road nya harus ada di tengah-tengah masjid dan taman, kenapa juga gak ada pagar pembatas antara masjid dan taman,,, (tersenyum kecut) hey, tau apa aku soal tata kota!! Atau inikah salah satu dari sekian banyak potret kemiskinan dan buruknya pemerintahan di negara ini, sangat sedikit pekerjaan yang layak, apa pun dilakukan hanya agar bisa bertahan hidup, sangat sedikit merasakan apa yang namanya sejahtera.

Melewati salah satu gedung pusat perbelanjaan… di seberang pintu masuk, seorang bapak tua berdiri, menengadahkan tangannya. Bertahan berdiri dengan hanya sebelah kaki yang dimilikinya dan penopang kayu yang dikepitnya. Nampak sedang menangis dan terisak, sangat mengiba. Benar-benar menangiskah? Atau hanya sekedar sandiwara palsu saja? Teringat tulisan di koran, seorang perempuan dengan dandanan pengemis sembunyi-sembunyi mengangkat telepon dari Samsung MiniMax-nya yang menderingkan MP3 lagu band Ungu.. (tersenyum masam)… Heh,, kenapa juga aku ini, jadi tidak percaya dengan pengemis. Bapak itu cacat,, memang pantas dikasihani.. Orang-orang berlalu, kali itu pun aku memilih untuk tetap berlalu, menggelengkan kepala menjawab tawaran bapak-bapak tukang becak dan meneruskan langkah.

Trotoar yang sudah sempit ini menjadi semakin sempit.. Padat oleh para pedagang kaki lima.. hhfff (sedikit miris).. terlintas di pikiran akan nasib hidup mereka, setiap waktu bisa terkena sial dikejar-kejar dan ditangkap saat ada penertiban jalan. Memang, di satu sisi mereka telah mengambil hak dan kenyamanan pejalan kaki, mengurangi kerapihan kota, dan membuat kotor jalanan. Tapi mereka juga manusia yang butuh makan untuk hidup. Sudah tak mendapat hak dan fasilitas apa-apa dari negara, tidak pendidikan murah, tidak pula fasilitas kesehatan dan pengobatan gratis, apalagi yang namanya penghidupan yang layak seperti yang tertera dalam Pasal-pasal UUD, sudah bagus mau bekerja mencari uang,, masih juga disingkirkan dan dikesampingkan.

Fiiuhh.. akhirnya sampai juga di terminal. Duduk manis di angkot, masih juga berpikir dan merenung. Terbayang santapan yang sudah menunggu di rumah. Terpikir senangnya pulang ke rumah, bisa mandi dan membersihkan diri, lalu makan malam dan tidur di kasur empuk. Cukup normal dan layak. Menghela napas, aku berjanji takkan lagi menyisakan dan membuang-buang makanan, takkan lagi berkeluh kesah tentang hidup dan semua hal yang membuat resah.

Jutaan orang hari ini terpaksa menahan lapar, dan aku masih bisa memilih apa yang akan dimakan. Alhamdulillah.