Dari tahun ke tahun kasus kekerasan pada anak-anak tetap saja ada. Ada banyak bentuk kekerasan pada anak-anak. Saya jadi ingat dulu sekitar tahun 2003-2004 sedang marak2nya kasus perkosaan (=kekerasan seksual) yang terjadi pada anak-anak bahkan balita. Tapi, kali ini yang saya mau bahas adalah kekerasan dalam arti perlakuan kasar terhadap anak, yang terjadi di lingkungan keluarga, tempat pertama di mana seorang anak seharusnya mendapat kasih sayang.
Pernah liat tayangan The Nanny 911 di Metro TV? Acara diawali dengan tayangan sebuah keluarga yang bermasalah dengan tingkah laku anak2nya yang secara langsung juga menunjukkan masalah yang dialami orang tua dalam mendidik anak mereka. Dan kalau sudah melihat tayangan itu saya jadi geleng-geleng kepala. Rasanya jadi geram juga melihat ada orang tua yang memarahi anaknya dengan teriakan2 tidak terkontrol dan volume suara yang edan2an, tidakkah mereka sadar bahwa kekerasan verbal pun bisa membuat sang anak mengalami gangguan/trauma psikologis? Apalagi kalau hal itu diikuti juga dengan kekerasan fisik.
Lalu, apa yang menjadi alasan orang tua bersikap seperti itu? Tingkah laku anak yang tidak terkendali kah? Rendahnya kemampuan orang tua dalam mengontrol emosi? atau memang sudah menjadi kebiasaan para orang tua, untuk, atas nama kekuasaan, memegang kendali terhadap anak dengan hanya mementingkan egoisme diri semata tanpa ada keinginan untuk memahami jiwa sang anak?
Jika ditelaah lagi, kasus kekerasan pada anak-anak ini berhubungan sebab-akibat dengan masalah kekerasan anak (=kekerasan yang dilakukan anak-anak). Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa ada 3 hal yang mempengaruhi kekerasan yang dilakukan anak-anak, yaitu televisi, lingkungan sekolah, dan lingkungan rumah(Lihat sini). Tentu saja, pengaruh buruk bisa diperoleh sang anak di manapun di luar lingkungan rumah, yang akhirnya mengakibatkan sang anak meniru tingkah laku buruk seperti memukul, menendang, melempar barang, tapi tetap saja filterisasinya ada di lingkungan rumah. Jika lingkungan rumah saja tidak bisa dijadikan contoh yang baik bagi anak, bagaimana jadinya masa depan mereka? Artinya, masalah ini berujung pangkal pada masalah bagaimana cara mendidik anak, tanpa kekerasan.
Lalu bagaimana cara mendidik anak tanpa kekerasan itu? Jawaban alternatifnya saya baca2 dari sini. Saya belum punya pengalaman yang real soal itu. Dengan membahas masalah ini, saya sadar bahwa memiliki anak bukan semata untuk membuat hidup menjadi sempurna (lulus sekolah/kuliah – bekerja – menikah – punya anak = sounds perfect, doesn’t it?). Mendidik anak itu tidak gampang, tanggung jawabnya pun besar.
Posted by Shanty Indraswari | 12 April 2008 20 komentar
Pembajakan! Udah hal yang gak aneh lagi untuk dibicarakan karena bajak-membajak ini sudah sangat marak terjadi dan tentunya paling sering dikomentarin, dicerca dan dicaci. Berbicara tentang pembajakan maka ujung-ujungnya nyangkut ke masalah kesadaran hukum, hak cipta, dan masalah untung rugi. Iya lah, pembajakan karya cipta itu merugikan kecuali satu pembajakan yang menguntungkan, apa hayo?? Ya pembajakan sawah donk, hehe..
Pembajakan software
Software apalagi yang sering dibajak kalo bukan yang keluaran Microsoft. Gak cuman di Indonesia siy software seperti Windows dan temen-temen Microsoftnya ini dibajak, tapi mau gimana lagi, beli yang asli kan jutaan. Jadi, kalo disuruh untuk gak pake software bajakan, hmmppfhh,, kayaknya mesti mikir-mikir dulu deh :p
Memang siy pembajakan software ini merugikan pihak pembuat software, tapi gimana ya, penetapan hukum, sanksi plus denda toh tidak pernah mengubah keadaan, pembajakan tetap saja ada. Makanya harus ada solusi dan pemecahan yang lain. Contoh yang real, Kampus ITB dan STT Telkom sudah menjalin kerja sama dengan pihak Microsoft untuk pengadaan software legal sehingga para mahasiswa bisa membeli lisensi produk Microsoft dengan harga murah bahkan gratis. Nah, kenapa juga agreement yang menguntungkan kedua belah pihak seperti ini tidak diusahakan oleh pemerintah Indonesia. Negosiasi kek biar bisa dapat lisensi dan produk legal yang murah secara udah jelas kalo disuruh beli produk asli kebanyakan masyarakat kan gak mampu.
Pembajakan CD/DVD
Nah yang ini siy bikin doyan ^_^ gimana nggak, dengan adanya versi bajakan, urusan koleksi lagu atau film terbaru jadi lebih mudah dan murah. Tapi, lagi-lagi ini menyangkut hak cipta yang harus dihargai. Jujur aja, udah jadi kebiasaan saya untuk berburu DVD bajakan tapi itu juga kalo nyari film-film yang dah lama atau yang baru tapi sudah gak beredar lagi di bioskop. Kalo ada film keren tetep aja nontonnya di bioskop kok, toh nonton kan bisa nomat cuman 10.000, gak beda jauh ma harga DVD bajakan yang cuman 5000. Urusan pembajakan ini katanya kan akan terus terjadi kalo masih banyak yang beli, jadi si pembeli ini yang harus sadar untuk gak beli yang bajakan. Hmm..bisa siy beli yang asli kalo pas obral dan harganya turun drastis tapi ya itu deh, film-film nya jadul dan gak komplit jadi gak banyak pilihan, gimana pun juga masih lebih puas milih DVD bajakan. So.. kalo disuruh gak beli yang bajakan, nyerah deh.. no comment ah, hehehe... Selama masih banyak yang jual, ya tetep saya bakal beli,, dan kalo semua tempat jualan DVD bajakan tutup yaaaa tetep saya juga gak
Pembajakan buku
Buku-buku yang saya tau ada versi bajakan-nya diantaranya kamus Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Oxford, buku-buku latihan TOEFL, TOEIC, IELTS, dan buku-buku lokal perkuliahan lainnya. Wah, yang ini siy sudah jelas melanggar hak cipta. Sayangnya, di sisi lain, keberadaan versi bajakannya jelas juga bikin kantong slamet secara kalo mesti beli kamus tebal yang bisa dijadiin bantal itu harga aslinya.. hmm kayaknya enakan buat beli baju, sepatu,dan temen2nya :p
Lalu, gimana dengan acara kopi-mengkopi yang gak bermaksud komersil?
Ini biasanya berkaitan dengan dunia pendidikan dan dunianya mahasiswa. Acara kopi mengkopi buku, bahan ujian sampe contekan tugas udah jadi kegiatan sehari-hari. Alasannya banyak, mulai dari harga buku yang terlampau mahal, susah didapat, tidak ada cetakan baru atau ada juga yang pada dasarnya gak bisa menghargai hasil karya orang juga. Sebenarnya bisa saja siy minjem, dari perpustakaan, misalnya. Tapi, yang namanya minjem kan dibatas waktu, gak bisa seenaknya juga. Makanya, lebih enak punya sendiri meski dari hasil fotokopi, ya kan?
Itu semua baru contoh aja karena kalo bicara pembajakan sepertinya banyak ya, mulai dari barang elektronik, desain baju, sepatu, tas, sampe kosmetik. Yang pasti kalo ada yang rugi karena hal itu berarti ada yang untung juga.
Kamu sendiri gimana?
Masihkan membeli barang bajakan?
atau
Kalau diminta untuk ’Say No’ sama barang bajakan, bisa gak??
*sumber dan inspirasi dari sini
Posted by Shanty Indraswari | 28 March 2008 29 komentar
Merenung,,menimbang,,merasa,,memikirkan,,
ya,, aku masih memikirkan,,dia.
Laki-laki ini,,yang telah sekian lama bertahta dalam benak,,yang bayangannya masih saja terbawa di setiap jejak,,yang kehangatannya masih terkenang dalam ingatan,, yang kehadirannya masih saja aku rindukan,,
Kenapa harus kamu. Pertanyaan yang selalu mengusik hatiku.
Karena kamu selalu jadi yang teristimewa. Mungkin itu jawabnya.
Mengenalmu, aku bisa tersenyum senang, aku bisa terus berdendang, dan aku lah yang selalu bisa berkembang. Tawaku berderai, aku bisa terus bersinar, walau akhirnya dengan lafaz tegar aku harus belajar..
cinta dan keinginan memiliki itu tidaklah sama..
Aku terluka,,namun cinta ini masih setia tertanam dalam jiwa,,
akulah sang pencinta,,akulah yang berpeluh asa,,dan aku jua lah yang menyulam prahara,,
maka kini biarkan aku yang berlumur duka,,
Masih di sini,,aku masih di sini,,
semua sudah terlanjur tercipta,,maaf jika ada yang terluka,,
karena aku hanya perempuan biasa,,dan tak kuasa mengubah apa-apa,,
cinta ini telah menorehkan banyak luka,, kebodohanku telah menuai derita,,
namun barangkali tanpa cinta,,
hidup tak lagi bisa bermakna,,
Temen-temen yang (pastinya) pada pinter-pinter semua pasti udah tau donk kalo sampah yang mengandung plastik perlu waktu ratusan tahun untuk hancur. Untuk membuatnya lenyap dari muka bumi pun gak semudah dengan cara membakarnya karena asap hasil pembakarannya mengandung zat-zat kimia (apa ya namanya? Pasti ada yang lebih tahu?! Yang tahu hayo ngacung!! :p) yang beracun dan berbahaya jika terhirup.
Waduh.. ini masalah gawat. Lingkungan kita sudah banyak dirusak, dicemari, disakiti dan yang nantinya jadi rugi ya tentunya kita-kita juga. So, gak perlu berbuat banyak untuk menyelamatkan lingkungan sebenernya, yang penting mulailah peduli lingkungan dengan mulai memperhatikan masalah sampah ini. Eit,,, tunggu dulu… jangan ngomong jauh-jauh dulu, buang sampah ke tempatnya dah dilakuin belom?? Paling sebel kalo dah liat orang pake mobil bagus, meluncur di jalan raya trus tiba-tiba “PLUK” dengan cueknya buang sampah sembarangan ke tengah jalan lewat jendela mobil. Gak bisa apa sediain tempat sampah di dalam mobil?? Oke, oke... aQ percaya koq kalo semua yang baca di sini bukan orang-orang yang suka buang sampah sembarangan seenaknya :)
Jadi, mulai sekarang kurangi penggunaan kantong plastik ini ya!! Susah juga ya mengingat jangankan untuk hal-hal yang memang butuh kantong plastik, untuk hal-hal lain yang masih bisa dicarikan alternatif penggantinya, di negara kita belum ada realisasi apapun untuk mengurangi penggunaan kantong plastik ini. Contohnya, di negara lain penggunaan kantong plastik di supermarket sudah diganti dengan shopping bags, lalu di Indonesia kapan?

Ya sudahlah, walaupun hanya sebentuk hal kecil dan mungkin sudah terlambat tapi…
mulailah..
1. kalo beli jajanan langsung pake mangkok/piring/gelas aja, gak usah pake plastik…
2. kalo beli minuman, minum langsung dari botolnya, jangan pake dipindah-pindah pake kantong plastik..
3. kalo barang belanjaan nya dikit masukin tas aja, gak usah pake kantong kresek…
4. kalo udah terlanjur dapet banyak kantong plastik? Jangan dibuang, simpen aja untuk dipake buat keperluan lainnya..
5. kalo beli barang yang pake kemasan plastik.. kumpulin kemasannya trus pastiin itu diambil pemulung supaya bisa didaur ulang…
6. tidak membeli barang dalam ukuran kecil apalagi dalam kemasan-kemasan sachet yang ujung-ujungnya bikin sampah semakin menumpuk…
7. lainnya.. isi sendiri…
ayo, ada yang punya cara lain?
Posted by Shanty Indraswari | 12 March 2008 13 komentar
Masih juga nggak bisa mengerti, masih juga memikirkan, masih juga mempertanyakan, masih juga mempermasalahkan…
Aduh… gw ngomong apa siy??
Maap, maap banget, kali ini pikiran gw lagi ruwet, emosi juga gak stabil, jadinya gak tau mo nulis apa di sini, jadi untuk sedikit melegakan dan menenangkan jiwa, pengen sekedar curhat-curhat gak jelas kayak gini +_+
Lagi ngerasa down.. lagi ngerasa capek.. dengan hidup.
Iya, gw juga tau, kalo kita gak mungkin bisa ngedapetin semua apa yang kita pengen dalam hidup. Tapi, lelah juga kalo terus menerus terperangkap dalam hal yang sama, meski sudah sebisa mungkin lari menjauh dari jeratan cerita-cerita yang hanya akan mendatangkan duka nestapa. Tetap saja, gak bisa benar-benar ‘pergi’. Gw ngerasa kayak bola pingpong, dipukul ke sana, dipukul ke sini. Bolak balik aja di situ. Mungkin memang sudah takdirnya begitu atau sudah menjadi nasib gw harus seperti itu.
Aarggh.. gw gak mau pusing-pusing mikirin itu. Gw dah seneng di sini, di rumah ini, ketemu temen2 baru di sini.. so, jikalau dengan tanpa sengaja akhirnya menyengsarakan orang lain, itu mungkin kesalahan gw dan gw bener2 minta maaf.
Hehe, ngomong apa siy,,, maap-maap buat semua2 yang gak ngerti.
Intinya, gw lagi capek menjalani hidup,, kalo bisa pengen cuti dulu, pengen rehat dulu…