A New Step Ahead

19 January 2014
Sudah berlalu enam tahun dan saya tak bisa menepati janji untuk kembali meramaikan halaman ini dengan buah pikiran saya. Kesibukan terlalu memerangkap dan apa daya saya terjerat. Hehe. Tapi, ada kabar baik yang membuat dunia saya kembali penuh warna sejak dua tahun silam. Akhirnya... ya akhirnya... cita-cita masa kecil saya terwujud juga. Keinginan menjadi seorang editor dan penulis bisa saya wujudkan dalam waktu bersamaan. Tanpa harus memilih salah satunya. Yipppi...
Cerita berawal dari diterimanya saya bekerja di sebuah penerbitan di kota saya sebagai editor bahasa Inggris. Bermula dari ketidaktahuan, saya pun sibuk mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan masalah editing, layout, dan publikasi sebuah buku pelajaran. Hingga pada akhirnya menulis pun menjadi bagian pekerjaan yang harus dituntaskan seperti menulis sinopsis, artikel back cover, dan re-writing content. Setahun terakhir saya habiskan dengan mengerjakan beberapa proyek menulis dari mulai buku untuk sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Satu masa yang tidak akan pernah saya lupa adalah saat-saat pengerjaan proyek untuk tender pemerintah. Deadline ketat membuat saya harus bergerak serba cepat dan efisien. Alhamdulillah, semua bisa saya selesaikan tepat waktu dan hasilnya pun tidak mengecewakan. Buku yang saya tulis berhasil lolos revisi dan kini sedang menunggu hasil proses evaluasi akhir.
Dan ... kali ini pun saya masih sibuk berkutat dengan buku kedua yang harus segera selesai. Ini adalah sebuah tantangan dan saya harus menaklukannya :)

I'm Back

27 May 2012
Yes, finally saya kembali juga ke rumah ini setelah sekian lama tak terawat. Sudah lama juga ya, empat tahun tak lagi saya tinggalkan jejak kisah apapun di sini. Tak ada kisah apapun yang saya bagi di sini.
Padahal selama empat tahun itu banyak cerita yang singgah dalam perjalanan hidup saya. Banyak cerita yang seharusnya bisa saya bagi di sini. Walaupun semua berujung sama, pada satu kesedihan dan keterpurukan yang akhirnya membawa saya kembali  ke sini. Tak ada yang berubah sepertinya. Saya masih seperti dulu, dengan semua pikiran pikiran kusut yang selalu saya coba urai di tempat ini. Masih juga berkutat dengan segala bentuk kebodohan dan kesendirian sebagai konsekuensinya.
Hmmpfh... Ingin rasanya berbagi cerita lain, yang lebih indah dan lebih manis. Tapi mulai detik ini saya berjanji, apapun kisah yang terjadi, akan saya tulis dengan sudut pandang yang berbeda, sudut pandang yang lebih positif, karena tentu saja saya percaya, semua hal yang terjadi pada hidup kita adalah suatu pembelajaran yang mengandung banyak hikmah sebagai anugrah dari Yang Maha Kuasa.
Love to start blogging again ^^

Awal yang Baru

27 November 2008
Dulu aku sering berkeluh kesah tentang kungkungan rutinitas yang menjemukan

Sekarang aku menghela nafas dan memilih untuk bersahabat dengan kerasnya kehidupan

Dulu aku terbiasa memilih untuk berdiam diri dan berjalan di tempat

Sekarang aku mulai menentukan sikap dan berlari dengan cepat
Dulu aku kebingungan kemana akan menentukan arah

Sekarang aku bisa tersenyum menatap masa depan yang lebih indah

Karena aku telah memutuskan

Memantapkan hatiku dan melangkah maju
Meninggalkan semua ketidakpastian dan melupakan cerita lalu

Untuk awal yang baru

Jangan Nyontek Lagi, Ya…!!

11 October 2008

Menanggapi artikel seseorang dengan inisial FE yang dimuat di Pikiran Rakyat yang terbukti plagiat karena merupakan hasil penggabungan beberapa tulisan orang lain yang dikutip tanpa mencantumkan sumber, dalam hati saya berkomentar, berani benar ya orang ini, mencontek tulisan orang lain dari internet, yang jelas mudah di akses siapa saja, lalu mengirimkannya ke surat kabar, yang juga sudah jelas media publik yang bisa dengan mudah di baca orang, tanpa pernah berpikir bahwa tindakannya pasti akan cepat diketahui dan ujung-ujungnya hanya akan mencemarkan namanya sendiri.

Terpikir pula, jika masih saja ada orang nekat semacam itu yang berani mempublikasikan tulisan plagiatnya, bisa dipastikan masih banyak orang-orang yang berani mengutip tulisan tanpa izin meski bukan untuk dipublikasikan ke khalayak umum secara luas, entah itu berupa tugas sekolah/kuliah, makalah, karya tulis, skripsi, dan lain sebagainya. Dan itu artinya mereka adalah pihak-pihak yang lebih senang cari gampangnya saja tanpa mau bersusah payah dan lebih bangga bukan dengan sesuatu yang dihasilkan dari kerja kerasnya sendiri.

Teringat juga bahwa masih selalu saja ada dan terjadi cerpen yang dicontek orang, puisi yang disalin ulang, artikel hingga opini yang dikutip mentah-mentah . Belum lagi sudah tak terhitung banyaknya cerita film, sinetron yang disadur tanpa mencantumkan sumber cerita aslinya berasal dari mana.

Apakah hal ini memang sudah menjadi bagian dari budaya? Budaya contek-mencontek, tidak menghargai hasil karya orang lain, dan senang cari gampangnya saja?

Entah, saya tidak ingat lagi apakah dulu setiap kali guru-guru sekolah memberi tugas yang berhubungan dengan tulis-menulis pada murid-muridnya, mereka terlebih dahulu menerangkan etika tulis menulis yang benar secara terperinci dan jelas? Juga mengingatkan bahwa jangankan mengutip opini yang jelas tertulis, mengakui opini yang keluar secara lisan dari pihak lain sebagai hasil pemikiran sendiri saja sudah merupakan satu kesalahan?

Yang saya ingat adalah demi menghindari acara kopi mengkopi tugas yang dengan mudah dilakukan dengan sistem copy paste menggunakan komputer, alih-alih memberi tugas yang harus diketik rapi dengan komputer, beberapa dosen lebih senang memberi tugas yang harus diketik dengan menggunakan mesin tik atau bahkan harus ditulis tangan saja. Dan walaupun cara ini tidak sepenuhnya menghilangkan kebiasaan contek-mencontek tugas, para dosen berpikir setidaknya jika mencontek pun tidak asal copy paste tanpa membaca, tapi menyalin ulang dengan mengetiknya atau menulisnya kembali memberi peluang sang pencontek untuk setidaknya membaca apa yang disalinnya.

Mengapa harus bangga dengan hasil contekan? Mengapa tidak bisa berbangga hati dengan karya hasil jerih payah sendiri? Mengapa tidak ada rasa malu mengakui karya orang lain sebagai milik sendiri?

Kebiasaan ini sepertinya sudah mengakar dan sulit dihilangkan.

Lalu, jika sudah begini siapa yang harus disalahkan?

*gambar dari sini

Karena Hidup Tak Selamanya Indah

27 July 2008
Jujur saja, rencana menyepi sepertinya tidak membawa hasil. Kenyataan yang terjadi adalah pikiran saya masih sering kusut, hidup saya tidak mengalami kemajuan apapun yang cukup signifikan, dan saya masih juga belum mampu menata ulang hidup seperti yang seharusnya dilakukan. Memang sih, hidup saya ini tidak berantakan-berantakan amat..tapi kalau saya biarkan begini terus, lama-lama itu sama saja dengan membiarkan diri saya jalan di tempat. Dan saya tak mau itu terjadi.

Sayangnya, untuk saat ini saya hanya bisa pasrah melihat hidup mengalir sedemikian rupa, apa adanya, seperti biasanya dengan bonus beberapa “kejutan tak menyenangkan” yang terjadi. Berawal dengan kenyataan bahwa saya harus merelakan seseorang hanya menjadi mimpi selamanya untuk saya. Dan di saat saya mampu untuk benar-benar rela tetap saja saya jadi merasa sendirian, sedikit merasa kehilangan, dan sedikit merasa iri dengan hidupnya yang nyaris sempurna. Dan selanjutnya, saya akhirnya terpaksa membuka mata terhadap banyak kenyataan pahit dalam hidup yang membuat ketakutan-ketakutan akan hidup yang saya rasakan, yang rencananya ingin saya buang jauh-jauh, malah semakin membesar. Pada akhirnya, pikiran saya yang bertambah penuh sesak membuat saya merasa semakin tak menentu.


Nampaknya kali ini, saya hanya bisa menghela nafas dan bersabar. Barangkali, kejutan yang lebih menyenangkan akan segera terjadi dalam beberapa waktu ke depan, dan tentu saja, sedikit perubahan untuk hidup saya. Semoga.

Moment of weakness..

12 July 2008
Apa yang kupikirkan? Apa yang kurasakan? Rasanya semua sudah menjadi kabur dan tak lagi nyata. Tak jelas, dan tanpa arah. Pikiran dan perasaan ini sudah terlalu penuh dengan banyak warna. Warna-warni dunia yang telah menjelmakan imajinasi semu yang seringkali tidak dengan mudah bisa beranjak ataupun dipaksa untuk pergi dan menghilang. Terhempas namun ada dan saling berhimpitan, mendesak ke dalam angan, menyelusup dalam akal, menetes ke dalam celah kalbu dan perasaan, hanya untuk menjadi sesuatu yang tak pasti dan tak menentu. Segalanya menjadi satu spekulasi semata. Dan aku tetap tak mengerti kenapa dan harus bagaimana.

Ingin pergi dan menghilang.

Bukan maksudnya menjadi pecundang dengan lari dari semua kenyataan hidup yang harus dihadapi dengan kepala tegak. Hanya ingin menyepi sesaat. Waktu memang tak bisa begitu saja diputar sekehendak hati, karena itu aku mengalah, mengalah pada putaran waktu. Terserah, apapun yang harus terjadi, terjadilah. Tapi, tentu bukan berarti aku tinggal diam berpasrah diri membiarkan hidup menjadi sia-sia. Harus menata ulang hidup, dan aku memulainya dengan ini. Mencoba menetralisir segala macam pikiran-pikiran aneh yang lebih banyak didominasi ketakutan akan kenyataan hidup itu sendiri dan mulai berdamai dengan berbagai macam perasaan yang begitu saja hadir seiring dengan berlalunya waktu

Semua yang terjadi bukan untuk ditangisi, apalagi untuk disesali. Dan aku hanya ingin sejenak berhenti untuk mencari dan menyatukan kembali keping-keping asa dan segenap pemahaman yang pernah sirna.

Demi hidup.

Tentang Perasaan

07 June 2008
Susah ya bicara soal perasaan. Sulit juga untuk menjabarkan apa maknanya. Terkadang kita bisa salah merasa, salah mengira, terlalu cepat menyimpulkan. Suka, sayang, cinta, ataukah itu mungkin sebenarnya hanya perasaan kagum atau perasaan nyaman saja?

Ada yang langsung bisa merasa cinta bahkan pada pandangan pertama, perkenalan pertama, pertemuan pertama, kencan pertama, bisa merasa bahwa dialah satu-satunya, pasangan hidup, belahan jiwa, jodoh yang diciptakan Tuhan untuk kita.
Ada juga yang perlu waktu lama untuk memahami bahwa yang dirasa adalah cinta dan mengikrarkannya di saat semuanya menjadi percuma. Ada yang bilang bahwa suka, sayang dan cinta itu adalah hal yang berbeda. Ada pula yang berkata ini bukanlah cinta, namun hanya keegoisan yang bicara, nafsu semata. Ada pula yang bercerita, bisa merasa nyaman tanpa bisa merasa getar-getar perasaan, tak ada chemistry, tak mampu menyentuh hati.

Dengan cara apa kita bisa mengartikan sesuatu rasa yang perlahan dan mungkin tanpa disadari hadir di relung hati? Secepat apa rasa itu harus disimpulkan maknanya hingga menjadi satu wujud nyata yang mutlak terakui keberadaannya? Seberapa lama kita bisa menyadari bahwa yang dirasa itu benar-benar cinta?

Mengapa kita bisa dengan begitu mudah mengucap cinta? Tak peduli seperti apa rasa itu sesungguhnya dalam hati, jika rasa itu telah terakui dengan pasti dan mulai menetap dalam hati, selalu akal dan pikir akan tercemar satu naluri. Naluri untuk mencinta. Tapi mengapa begitu mudahnya manusia mengartikan sesuatu rasa itu sebagai cinta, yang bisa saja hanya hadir sesaat karena kerapuhan semata? Kelemahan sang jiwa yang haus akan buaian mesra dan indahnya kisah yang mungkin tercipta.

Jiwa yang rapuh itu tersentuh dan akhirnya merasa sakit saat terluka karena sesuatu rasa itu. Dikala terjatuh. Ketika kenyataan tak sesuai dengan keinginan yang diharapkan. Atau ketika perasaan itu telah menjadi beban dan tak mampu terucapkan. Atau disaat sesuatu rasa yang telah hadir itu harus terabaikan dan tak teracuhkan.

Rumitnya bicara tentang perasaan yang hanya bisa terasa dalam hati. Bisa begitu mudah terabaikan, dan baru terasa adanya saat mulai kehilangan. Perlu segenap nyali hanya untuk membuatnya teryakini, menjadikannya hidup dan memberi arti.

Time will heal..

31 May 2008
Hehe.. akhirnya nulis lagi deh. Entah kenapa beberapa minggu terakhir ini saya ngerasa kecapean banget, hiks! Plus banyak pikiran kyknya, entah mikirin apa saya juga gak ngerti =p yang jelas itu bikin kinerja otak saya jadi kacau balau hingga setiap kali mulai (maksain) buat nulis yang ada baru satu paragraf aja udah ngerasa mentok, otaknya seret gituh, serasa aja bikin essay ato makalah haha.. beneran.. even nulis hal2 biasa yang terjadi sehari-hari atau perasaan yang lagi saya rasain di diary manual aja gak bisa. So weird!! Hmm.. gak juga siy.. yah sepertinya saya hanya kurang tidur ajah jadi butuh istirahat.. aaahhh…manja hehe.
Jadi, maap buat yang sudah bolak-balik berkunjung ke rumah ini dan berharap ada update-an terbaru akhirnya terpaksa menelan kecewa :)

Dan hari ini, saat ini.. meski teteup masih juga kurang tidur dan cuman sempet tidur beberapa jam semalam, saya lagih ngerasa FRESH :) tp bukan berarti lagi seneng.. okay, kalo mau jujur sebenernya ada beberapa hal yang masih juga betah nyangkut di pikiran saya ini.

satu
Kadang saya sebel dan ngerasa gak betah sama kerjaan saya yang sekarang. Iya saya tau harusnya saya bersyukur mengingat sangat tingginya data statistik jumlah pengangguran di Jawa Barat ini, saya masih bisa.. masih bisa jadi orang yang gak termasuk dalam daftar itu, hihi. Ya gitu, namanya juga manusia seringnya gak puas, tapi…saya juga gak ngerti gak puas apanya?? Hhhmmpffh, mungkin saya hanya HARUS nemuin kerjaan dan suasana kerja yang cocok ajah. Tapi apa iya bisa? Namanya juga jadi kuli, mana ada yang enak >_<

dua

Saya udah berjanji dan berusaha untuk ngelupain masa lalu dan mulai lagi lembaran-lembaran baru dalam hidup saya.. tapi masih aja satu hal itu tertinggal..ketinggalan..membekas..ato apalah itu namanya ya intinya masih juga ngikut-ngikut. Perasaan sakit hatinya saya sama satu cowok, yang sayangnya, pernah saya sayang. Harusnya saya maafin, memang, kalo dia mau minta maaf sama sayah sambil sujud-sujud, huehehe.. nah, masalahnya itu gak mungkin banget terjadi secara dia nganggep saya ini sampah seolah saya ini makhluk paling najis tanpa melihat kesalahannya sendiri. *
sigh*

tiga
Ada saat-saat dimana saya merasa asing dengan diri saya sendiri, seolah itu bukan saya, ato gak percaya saya bisa melakukan sesuatu hal. Kalau hal yang baik emang gak jadi masalah tentu, tapi hal yang jelek?? Tiap orang punya banyak sisi dalam hidupnya, sepertinya begitu ya. Ah, tapi tetep aja membingungkan, seperti di saat dulu, di mana saya melakukan sesuatu hal yang saya pikir itu adalah sisi lain dari diri saya tapi sebenernya gak seharusnya saya lakukan, coz it’s just a fake, I just imitated others, perhaps. So, makanya sekarang saya berusaha keras buat membenahi diri sendiri dan tetep HARUS jadi diri sendiri.
Just be your self!! Terkesan gampang padahal prakteknya susah. Harus kenal diri sendiri dulu sebelum kenal orang lain, harus ngerti diri sendiri dulu sebelum bisa ngertiin orang lain, harus sayang sama diri sendiri dulu sebelum sayang sama orang lain.

Hmm.. jadi inget, sahabat saya pernah bilang…
that I had always been such a complicated friend for her.. semuanya complicated.. pikiran saya.. jalan hidup saya.. semua yang terjadi sama saya, nasib saya, soal keluarga, soal temen, soal cowok…kecuali satu hal…nilai kuliah saya yang gak pernah bermasalah, haha. Yeah, you know, I’ve been in some miseries for years.. and now here I am.. I’m now quite happy with what I have, appreciating what I get, and still.. fighting for what I have dreamt of. Hmmppfhh..this year is a new beginning… saya berusaha memperbaiki semuanya, iyah semua-semuanya dan mulai dari awal lagi…dan syukurlah, it seems that God consents to this. Moga aja ya everything will run smoothly from now on.. ahh.. gak bisa gitu juga ya,, the wheel turns, jadi harus siap-siap juga, unexpected things might happen.
Hehe.. apaan siy saya koq jadi curhat =p

Btw, this is Saturday!!! To all of you: happy Saturday night yah :)
Have a nice weekend juga.

Di Persimpangan Jalan

17 May 2008
Selalu ada masa di mana manusia harus berada di persimpangan jalan. Berhadapan dengan pilihan. Dan jalan lurus yang dipilih tak berarti juga tanpa noda, tanpa cela, tanpa resah, dan tanpa masalah. Berbelok adalah suatu tantangan. Memutar arah dan mencari celah dalam lika liku persinggahan yang kerap menyampirkan lebih banyak beban dan kegundahan dalam benak.

Jalan ini bukan tanpa ujung. Dalam setiap lekuknya ada persimpangan demi persimpangan. Dan di sanalah tujuan demi tujuan jua diciptakan, menuju satu akhir pemberhentian.

Temaram menjadi kelam
Pendaran cahaya itu hilang dalam lelahku berkelana dengan kepingan jiwa yang hampa
Yang tertinggal adalah kekosongan
Riak-riak duka dan kegelisahan yang semakin merajam tak mampu lagi kulawan
Aku diam..
Bertahan..
Dalam gelap pekat di mana tak ada lagi persimpangan yang bisa kulihat
Titik titik keangkuhan pun lenyap sekejap
Terbasuh kesadaran atas lemahnya kuasa dan dangkalnya pikiran

Persimpangan jalan ini boleh saja semakin menjepit, tapi akal tak boleh sakit. Jalanan sempit bisa terlewati karena akal termiliki. Namun adakalanya jalan yang terbentang luas terlewatkan hanya karena akal yang menyempit..

Dan hanyalah kodrat dan iradat-Nya
Yang mampu memetakan jalan lurus
Dan meresapkan nafas-nafas hakiki dalam denyut pengembaraan suci

Lihatlah Lebih Dekat!

03 May 2008
Menyisir area pusat kota di sore hari... orang-orang sibuk hilir mudik, kendaraan berlalu lalang, sopir-sopir dan tukang becak berebut mencari penumpang, para pedagang mengoceh menawarkan dagangannya, pemulung mengais di tong-tong sampah, pengemis-pengemis menengadah tangan mengiba, gelandangan tertidur di pinggiran jalan…

Dengan sedikit peluh dan penat, aku melangkah.. areal taman Masjid ini sepertinya semakin lama semakin berjejal dan berantakan saja, pikirku. Semakin banyak pedagang di sini, entah kenapa dibiarkan saja, padahal bukankah dalam agama Islam ada larangan melakukan perniagaan di wilayah masjid.. hhmmpfh.. tapi mereka kan berdagang untuk mencari nafkah hidup, kalau dilarang kasihan juga,, mungkin sebaiknya perlu diberi tempat khusus saja,,,heh,, kerjaan siapa ini, salah siapa ini?? salah penataannya kali.. kenapa juga pedestrian road nya harus ada di tengah-tengah masjid dan taman, kenapa juga gak ada pagar pembatas antara masjid dan taman,,, (tersenyum kecut) hey, tau apa aku soal tata kota!! Atau inikah salah satu dari sekian banyak potret kemiskinan dan buruknya pemerintahan di negara ini, sangat sedikit pekerjaan yang layak, apa pun dilakukan hanya agar bisa bertahan hidup, sangat sedikit merasakan apa yang namanya sejahtera.

Melewati salah satu gedung pusat perbelanjaan… di seberang pintu masuk, seorang bapak tua berdiri, menengadahkan tangannya. Bertahan berdiri dengan hanya sebelah kaki yang dimilikinya dan penopang kayu yang dikepitnya. Nampak sedang menangis dan terisak, sangat mengiba. Benar-benar menangiskah? Atau hanya sekedar sandiwara palsu saja? Teringat tulisan di koran, seorang perempuan dengan dandanan pengemis sembunyi-sembunyi mengangkat telepon dari Samsung MiniMax-nya yang menderingkan MP3 lagu band Ungu.. (tersenyum masam)… Heh,, kenapa juga aku ini, jadi tidak percaya dengan pengemis. Bapak itu cacat,, memang pantas dikasihani.. Orang-orang berlalu, kali itu pun aku memilih untuk tetap berlalu, menggelengkan kepala menjawab tawaran bapak-bapak tukang becak dan meneruskan langkah.

Trotoar yang sudah sempit ini menjadi semakin sempit.. Padat oleh para pedagang kaki lima.. hhfff (sedikit miris).. terlintas di pikiran akan nasib hidup mereka, setiap waktu bisa terkena sial dikejar-kejar dan ditangkap saat ada penertiban jalan. Memang, di satu sisi mereka telah mengambil hak dan kenyamanan pejalan kaki, mengurangi kerapihan kota, dan membuat kotor jalanan. Tapi mereka juga manusia yang butuh makan untuk hidup. Sudah tak mendapat hak dan fasilitas apa-apa dari negara, tidak pendidikan murah, tidak pula fasilitas kesehatan dan pengobatan gratis, apalagi yang namanya penghidupan yang layak seperti yang tertera dalam Pasal-pasal UUD, sudah bagus mau bekerja mencari uang,, masih juga disingkirkan dan dikesampingkan.

Fiiuhh.. akhirnya sampai juga di terminal. Duduk manis di angkot, masih juga berpikir dan merenung. Terbayang santapan yang sudah menunggu di rumah. Terpikir senangnya pulang ke rumah, bisa mandi dan membersihkan diri, lalu makan malam dan tidur di kasur empuk. Cukup normal dan layak. Menghela napas, aku berjanji takkan lagi menyisakan dan membuang-buang makanan, takkan lagi berkeluh kesah tentang hidup dan semua hal yang membuat resah.

Jutaan orang hari ini terpaksa menahan lapar, dan aku masih bisa memilih apa yang akan dimakan. Alhamdulillah.

Kekerasan pada Anak-anak. Trend atau Fenomena?

12 April 2008
Melirik sekilas pada salah satu artikel di surat kabar... *sigh* Kekerasan pada anak-anak, masih juga jadi bahan berita. Apa karena anak-anak adalah makhluk lemah yang tidak berdaya, lantas bisa diperlakukan seenaknya? Bukankah fakta itu harusnya justru menjadi alasan untuk melindungi dan menyayangi mereka?

Dari tahun ke tahun kasus kekerasan pada anak-anak tetap saja ada. Ada banyak bentuk kekerasan pada anak-anak. Saya jadi ingat dulu sekitar tahun 2003-2004 sedang marak2nya kasus perkosaan (=kekerasan seksual) yang terjadi pada anak-anak bahkan balita. Tapi, kali ini yang saya mau bahas adalah kekerasan dalam arti perlakuan kasar terhadap anak, yang terjadi di lingkungan keluarga, tempat pertama di mana seorang anak seharusnya mendapat kasih sayang.

Pernah liat tayangan The Nanny 911 di Metro TV? Acara diawali dengan tayangan sebuah keluarga yang bermasalah dengan tingkah laku anak2nya yang secara langsung juga menunjukkan masalah yang dialami orang tua dalam mendidik anak mereka. Dan kalau sudah melihat tayangan itu saya jadi geleng-geleng kepala. Rasanya jadi geram juga melihat ada orang tua yang memarahi anaknya dengan teriakan2 tidak terkontrol dan volume suara yang edan2an, tidakkah mereka sadar bahwa kekerasan verbal pun bisa membuat sang anak mengalami gangguan/trauma psikologis? Apalagi kalau hal itu diikuti juga dengan kekerasan fisik.

Lalu, apa yang menjadi alasan orang tua bersikap seperti itu? Tingkah laku anak yang tidak terkendali kah? Rendahnya kemampuan orang tua dalam mengontrol emosi? atau memang sudah menjadi kebiasaan para orang tua, untuk, atas nama kekuasaan, memegang kendali terhadap anak dengan hanya mementingkan egoisme diri semata tanpa ada keinginan untuk memahami jiwa sang anak?

Jika ditelaah lagi, kasus kekerasan pada anak-anak ini berhubungan sebab-akibat dengan masalah kekerasan anak (=kekerasan yang dilakukan anak-anak). Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa ada 3 hal yang mempengaruhi kekerasan yang dilakukan anak-anak, yaitu televisi, lingkungan sekolah, dan lingkungan rumah(Lihat sini). Tentu saja, pengaruh buruk bisa diperoleh sang anak di manapun di luar lingkungan rumah, yang akhirnya mengakibatkan sang anak meniru tingkah laku buruk seperti memukul, menendang, melempar barang, tapi tetap saja filterisasinya ada di lingkungan rumah. Jika lingkungan rumah saja tidak bisa dijadikan contoh yang baik bagi anak, bagaimana jadinya masa depan mereka? Artinya, masalah ini berujung pangkal pada masalah bagaimana cara mendidik anak, tanpa kekerasan.

Lalu bagaimana cara mendidik anak tanpa kekerasan itu? Jawaban alternatifnya saya baca2 dari sini. Saya belum punya pengalaman yang real soal itu. Dengan membahas masalah ini, saya sadar bahwa memiliki anak bukan semata untuk membuat hidup menjadi sempurna (lulus sekolah/kuliah – bekerja – menikah – punya anak = sounds perfect, doesn’t it?). Mendidik anak itu tidak gampang, tanggung jawabnya pun besar.

‘Say No to Piracy..?!!’ Bisa Gak Ya??

28 March 2008

Pembajakan! Udah hal yang gak aneh lagi untuk dibicarakan karena bajak-membajak ini sudah sangat marak terjadi dan tentunya paling sering dikomentarin, dicerca dan dicaci. Berbicara tentang pembajakan maka ujung-ujungnya nyangkut ke masalah kesadaran hukum, hak cipta, dan masalah untung rugi. Iya lah, pembajakan karya cipta itu merugikan kecuali satu pembajakan yang menguntungkan, apa hayo?? Ya pembajakan sawah donk, hehe..

Oke deh, kalo mau diuraikan, pembajakan yang umum dan sudah biasa terjadi yaitu:

Pembajakan software
Software apalagi yang sering dibajak kalo bukan yang keluaran Microsoft. Gak cuman di Indonesia siy software seperti Windows dan temen-temen Microsoftnya ini dibajak, tapi mau gimana lagi, beli yang asli kan jutaan. Jadi, kalo disuruh untuk gak pake software bajakan, hmmppfhh,, kayaknya mesti mikir-mikir dulu deh :p
Memang siy pembajakan software ini merugikan pihak pembuat software, tapi gimana ya, penetapan hukum, sanksi plus denda toh tidak pernah mengubah keadaan, pembajakan tetap saja ada. Makanya harus ada solusi dan pemecahan yang lain. Contoh yang real, Kampus ITB dan STT Telkom sudah menjalin kerja sama dengan pihak Microsoft untuk pengadaan software legal sehingga para mahasiswa bisa membeli lisensi produk Microsoft dengan harga murah bahkan gratis. Nah, kenapa juga agreement yang menguntungkan kedua belah pihak seperti ini tidak diusahakan oleh pemerintah Indonesia. Negosiasi kek biar bisa dapat lisensi dan produk legal yang murah secara udah jelas kalo disuruh beli produk asli kebanyakan masyarakat kan gak mampu.

Pembajakan CD/DVD
Nah yang ini siy bikin doyan ^_^ gimana nggak, dengan adanya versi bajakan, urusan koleksi lagu atau film terbaru jadi lebih mudah dan murah. Tapi, lagi-lagi ini menyangkut hak cipta yang harus dihargai. Jujur aja, udah jadi kebiasaan saya untuk berburu DVD bajakan tapi itu juga kalo nyari film-film yang dah lama atau yang baru tapi sudah gak beredar lagi di bioskop. Kalo ada film keren tetep aja nontonnya di bioskop kok, toh nonton kan bisa nomat cuman 10.000, gak beda jauh ma harga DVD bajakan yang cuman 5000. Urusan pembajakan ini katanya kan akan terus terjadi kalo masih banyak yang beli, jadi si pembeli ini yang harus sadar untuk gak beli yang bajakan. Hmm..bisa siy beli yang asli kalo pas obral dan harganya turun drastis tapi ya itu deh, film-film nya jadul dan gak komplit jadi gak banyak pilihan, gimana pun juga masih lebih puas milih DVD bajakan.
So.. kalo disuruh gak beli yang bajakan, nyerah deh.. no comment ah, hehehe... Selama masih banyak yang jual, ya tetep saya bakal beli,, dan kalo semua tempat jualan DVD bajakan tutup yaaaa tetep saya juga gak kan buang-buang duit beli DVD asli :p

Pembajakan buku
Buku-buku yang saya tau ada versi bajakan-nya diantaranya kamus Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Oxford, buku-buku latihan TOEFL, TOEIC, IELTS, dan buku-buku lokal perkuliahan lainnya. Wah, yang ini siy sudah jelas melanggar hak cipta. Sayangnya, di sisi lain, keberadaan versi bajakannya jelas juga bikin kantong slamet secara kalo mesti beli kamus tebal yang bisa dijadiin bantal itu harga aslinya.. hmm kayaknya enakan buat beli baju, sepatu,dan temen2nya :p

Lalu, gimana dengan acara kopi-mengkopi yang gak bermaksud komersil?

Ini biasanya berkaitan dengan dunia pendidikan dan dunianya mahasiswa. Acara kopi mengkopi buku, bahan ujian sampe contekan tugas udah jadi kegiatan sehari-hari. Alasannya banyak, mulai dari harga buku yang terlampau mahal, susah didapat, tidak ada cetakan baru atau ada juga yang pada dasarnya gak bisa menghargai hasil karya orang juga. Sebenarnya bisa saja siy minjem, dari perpustakaan, misalnya. Tapi, yang namanya minjem kan dibatas waktu, gak bisa seenaknya juga. Makanya, lebih enak punya sendiri meski dari hasil fotokopi, ya kan?

Itu semua baru contoh aja karena kalo bicara pembajakan sepertinya banyak ya, mulai dari barang elektronik, desain baju, sepatu, tas, sampe kosmetik. Yang pasti kalo ada yang rugi karena hal itu berarti ada yang untung juga.

Kamu sendiri gimana?

Masihkan membeli barang bajakan?

atau

Kalau diminta untuk ’Say No’ sama barang bajakan, bisa gak??



*sumber dan inspirasi dari sini

...hanya perempuan biasa…

18 March 2008
Dengan kekusutan pikiran, kepenatan jiwa dan deraan perasaan,, di tempat yang sama aku terdiam,, terkadang hanya ada air mata yang jatuh, menyuarakan jeritan yang terpendam.
Merenung,,menimbang,,merasa,,memikirkan,,
ya,, aku masih memikirkan,,dia.
Laki-laki ini,,yang telah sekian lama bertahta dalam benak,,yang bayangannya masih saja terbawa di setiap jejak,,yang kehangatannya masih terkenang dalam ingatan,, yang kehadirannya masih saja aku rindukan,,
Kenapa harus kamu. Pertanyaan yang selalu mengusik hatiku.
Karena kamu selalu jadi yang teristimewa. Mungkin itu jawabnya.
Mengenalmu, aku bisa tersenyum senang, aku bisa terus berdendang, dan aku lah yang selalu bisa berkembang. Tawaku berderai, aku bisa terus bersinar, walau akhirnya dengan lafaz tegar aku harus belajar..
cinta dan keinginan memiliki itu tidaklah sama..

Aku terluka,,namun cinta ini masih setia tertanam dalam jiwa,,
akulah sang pencinta,,akulah yang berpeluh asa,,dan aku jua lah yang menyulam prahara,,
maka kini biarkan aku yang berlumur duka,,

Masih di sini,,aku masih di sini,,
semua sudah terlanjur tercipta,,maaf jika ada yang terluka,,
karena aku hanya perempuan biasa,,dan tak kuasa mengubah apa-apa,,
cinta ini telah menorehkan banyak luka,, kebodohanku telah menuai derita,,
namun barangkali tanpa cinta,,
hidup tak lagi bisa bermakna,,

Gak Perlu Lagi Kantong Plastik!!

12 March 2008
Kantong plastik… gak jauh dari keseharian kita-kita yang tinggal di bumi tercinta Indonesia ini. Bayangin aja, mulai dari jajanan kecil di pinggir jalan, di warung-warung mpe barang belanjaan di supermarket, semuanya pake kantong plastik. Dan itu belum termasuk penggunaan sejumlah kemasan yang mengandung plastik (bungkus permen, deterjen, bungkus kue, kemasan botol, bahan gabus/styrofoam, dll). Banyak banget ya.. kayaknya gak ada yang gak pake kantong plastik apalagi di kota Bandung yang banyak jajanannya..beli siomay, batagor, cakue, cireng, cilok,,,,, pake kantong plastik!

Temen-temen yang (pastinya) pada pinter-pinter semua pasti udah tau donk kalo sampah yang mengandung plastik perlu waktu ratusan tahun untuk hancur. Untuk membuatnya lenyap dari muka bumi pun gak semudah dengan cara membakarnya karena asap hasil pembakarannya mengandung zat-zat kimia (apa ya namanya? Pasti ada yang lebih tahu?! Yang tahu hayo ngacung!! :p) yang beracun dan berbahaya jika terhirup.

Waduh.. ini masalah gawat. Lingkungan kita sudah banyak dirusak, dicemari, disakiti dan yang nantinya jadi rugi ya tentunya kita-kita juga. So, gak perlu berbuat banyak untuk menyelamatkan lingkungan sebenernya, yang penting mulailah peduli lingkungan dengan mulai memperhatikan masalah sampah ini. Eit,,, tunggu dulu… jangan ngomong jauh-jauh dulu, buang sampah ke tempatnya dah dilakuin belom?? Paling sebel kalo dah liat orang pake mobil bagus, meluncur di jalan raya trus tiba-tiba “PLUK” dengan cueknya buang sampah sembarangan ke tengah jalan lewat jendela mobil. Gak bisa apa sediain tempat sampah di dalam mobil?? Oke, oke... aQ percaya koq kalo semua yang baca di sini bukan orang-orang yang suka buang sampah sembarangan seenaknya :)

Jadi, mulai sekarang kurangi penggunaan kantong plastik ini ya!! Susah juga ya mengingat jangankan untuk hal-hal yang memang butuh kantong plastik, untuk hal-hal lain yang masih bisa dicarikan alternatif penggantinya, di negara kita belum ada realisasi apapun untuk mengurangi penggunaan kantong plastik ini. Contohnya, di negara lain penggunaan kantong plastik di supermarket sudah diganti dengan shopping bags, lalu di Indonesia kapan?




Ya sudahlah, walaupun hanya sebentuk hal kecil dan mungkin sudah terlambat tapi…
mulailah..

1. kalo beli jajanan langsung pake mangkok/piring/gelas aja, gak usah pake plastik…

2. kalo beli minuman, minum langsung dari botolnya, jangan pake dipindah-pindah pake kantong plastik..

3. kalo barang belanjaan nya dikit masukin tas aja, gak usah pake kantong kresek…

4. kalo udah terlanjur dapet banyak kantong plastik? Jangan dibuang, simpen aja untuk dipake buat keperluan lainnya..

5. kalo beli barang yang pake kemasan plastik.. kumpulin kemasannya trus pastiin itu diambil pemulung supaya bisa didaur ulang…

6. tidak membeli barang dalam ukuran kecil apalagi dalam kemasan-kemasan sachet yang ujung-ujungnya bikin sampah semakin menumpuk…

7. lainnya.. isi sendiri…

ayo, ada yang punya cara lain?

sick of this life

07 March 2008
Bingung, kesal, marah, sedih, sakit hati… itu yg sedang gw rasain sekarang. Mungkin pada seseorang, pada keadaan, mungkin juga pada diri sendiri.

Masih juga nggak bisa mengerti, masih juga memikirkan, masih juga mempertanyakan, masih juga mempermasalahkan…

Aduh… gw ngomong apa siy??

Maap, maap banget, kali ini pikiran gw lagi ruwet, emosi juga gak stabil, jadinya gak tau mo nulis apa di sini, jadi untuk sedikit melegakan dan menenangkan jiwa, pengen sekedar curhat-curhat gak jelas kayak gini +_+

Lagi ngerasa down.. lagi ngerasa capek.. dengan hidup.

Iya, gw juga tau, kalo kita gak mungkin bisa ngedapetin semua apa yang kita pengen dalam hidup. Tapi, lelah juga kalo terus menerus terperangkap dalam hal yang sama, meski sudah sebisa mungkin lari menjauh dari jeratan cerita-cerita yang hanya akan mendatangkan duka nestapa. Tetap saja, gak bisa benar-benar ‘pergi’. Gw ngerasa kayak bola pingpong, dipukul ke sana, dipukul ke sini. Bolak balik aja di situ. Mungkin memang sudah takdirnya begitu atau sudah menjadi nasib gw harus seperti itu.

Aarggh.. gw gak mau pusing-pusing mikirin itu. Gw dah seneng di sini, di rumah ini, ketemu temen2 baru di sini.. so, jikalau dengan tanpa sengaja akhirnya menyengsarakan orang lain, itu mungkin kesalahan gw dan gw bener2 minta maaf.

Hehe, ngomong apa siy,,, maap-maap buat semua2 yang gak ngerti.

Intinya, gw lagi capek menjalani hidup,, kalo bisa pengen cuti dulu, pengen rehat dulu…

Munajat Cinta

20 February 2008
Akhir-akhir ini, beberapa temen saya kerap berkeluh kesah soal kesendirian mereka dan keinginan mereka untuk memiliki pasangan. Masalah pernikahan belum jadi topik utama sebenarnya, tapi mengingat usia yang makin merayap, saya pribadi siy pikirannya dah gak jauh-jauh dari sana. Namun, mengingat saya baru saja patah hati, jadi pikiran soal itu mending saya kesampingkan dulu jauh-jauh deh..

Teman saya yang satu ini dulunya cuek dan antipati soal cowok. Baru beberapa tahun terakhir ini saja nampaknya mbak ini mulai berpikiran untuk punya seorang kekasih. Mungkin karena mengingat usia yang sudah bukan belia lagi ya.. Dalam beberapa kesempatan, beliau juga kerap berkeluh kesah menyoal tampilan fisik yang dinilainya tidak menarik dan ‘mungkin’ bisa jadi hambatan untuk mendapatkan pria idaman. Hmmfffph... saya siy cuman bisa jadi pendengar setia dan berusaha meyakinkan bahwa sudah takdir manusia untuk hidup berpasangan jadi beliau tidak perlu khawatir tidak mendapat jatah. (hehe,,, ini sebenernya penghiburan untuk saya sendiri, karena kalau bicara soal itu siy saya juga bingung karena saya belum tahu belahan jiwa saya itu siapa)

Teman saya yang lain, ceritanya beda lagi. Setelah setahun lebih sendiri, akhirnya gadis manis ini ngebet ingin segera punya pasangan lagi. Lebih karena kebanyakan rekan-rekan kerjanya sudah memiliki pendamping, teman saya ini akhirnya jadi sensitif kalo melihat orang pacaran, yang akhirnya bikin saya jadi tambah bingung juga karena saya malahan sudah bisa cuek dan bersikap masa bodoh. Iya, beneran, dulunya saya juga suka ngiri melihat orang berpasang2an sementara saya sendirian. Tapi saya juga gak tau napa akhir-akhir ini saya gak merasa begitu lagi padahal kalo ngomongin soal cinta-cintaan, saya kebanyakan sedihnya, apalagi baru-baru ini saya harus melepaskan orang yang paling saya sayang.

Ya begitulah.. permunajatan cinta ini memang bukan hanya cerita milik saya ataupun teman-teman saya. Mereka yang sudah memiliki pasangan pun masih saja ada yang bingung mikirin tepat tidaknya orang yang disamping mereka sekarang. Saya malahan seringnya merasa cape sendiri jatuh bangun terus sampai akhirnya saya gak peduli lagi dan gak mau mikirin lagi soal munajat-munajat cinta itu.


However, life goes on. Saya berharap semoga teman-teman saya itu bisa segera bertemu dengan pangerannya masing-masing. Setidaknya saya kan gak harus lagi menampung keluh kesah mereka... tapi mungkin nanti bisa-bisa malahan saya yang sensitif lagi ya... jadinya gimana niy?? Entahlah, mungkin sekarang sudah waktunya saya bermunajat lagi... *sigh*

Overtime but Underpaid

19 February 2008
Judulnya sedikit nyontek siy dari koran =D Jadi, ceritanya hari apa gitu ya di rubrik kampus koran PR tuh ngebahas soal kerja magang atau part time para mahasiswa yang notabene dapet gajinya dikit malah bisa gak dibayar tapi dikasih kerjaan yang bejibun sampai mesti kerja lembur.
Hmmppffhh..
Jadi inget jaman jamannya saya kerja dulu.
Saya bersyukur banget karena saya gak harus nganggur terlalu lama setelah lulus kuliah. Tapi…busyet dah.. pekerjaan pertama atau pengalaman pertama saya kerja itu bener bener dreadful, horrible, terrible and so on deh.. Underpaid, mungkin itu masalah yang umum di mana banyak pekerja yang ngalamin itu, kerja overtime tapi gak dibayar itu juga masalah yang ada aja di beberapa perusahaan di Indonesia ini. Nah, parahnya I experienced both ways and plus bonus bonus lainnya.
Pertama dapet kerja pertama kalinya itu pula saya harus banyak ikhlas… pertama saya dapet posisi n tugas tugas yang gak saya suka yaitu di bidang marketing.. but you know, if we believe we’re gonna do it well, everything runs well anyway. I had gone it through, horay :). Trus saya mesti menelan kekecewaan saya bahwa salary yang saya dapat gak sesuai banget bahkan untuk lulusan SMU sekalipun belum ditambah kenyataan bahwa jobdesc saya termasuk juga lembur melebihi jam normal yang edan edanan bahkan bisa hingga tengah malam…hiks…
Dan, seiring berlalunya waktu, ketika akhirnya saya menjabat sebagai sekretaris direksi tetap saja keberuntungan saya sepertinya ngilang entah kemana. Salary saya tetep gak naik-naik, masih juga harus kerja overtime dan ini niy ditambah lagi bonusnya mesti mengalami pelecehan seksual segala. Duh..GusTi!!
Pokoknya jauh dari kata menyenangkan n normal deh.. Segala galanya jadi tidak menyenangkan dimana orang orang dan lingkungan kerja nya pun semakin tidak menyenangkan, aturan aturan kerja nya pun aneh dan menyiksa.
So, impian saya cuman sederhana saja, saya ingin kerja di tempat dimana semua aturan jelas, tempat yang normal dimana semuanya serba normal dan sesuai.

Jadi Cewek? Ya Kayak Gini NiH...!!!

“To be a woman is to behave by following constructed custom and cultures, to gain several limitations and unfair treatments from society, and to live under the shadowing fear of rape.”

Itu satu kesimpulan yang saya tulis dalam salah satu essay saya jaman kuliah dulu yang topiknya ngebahas tentang eksistensi perempuan. Ngerasa gak siy kalo fakta fakta di atas tuh bener banget… Bukannya menyesali takdir hidup sebagai perempuan lho, tapi kalo udah ada hubungannya sama kehidupan masyarakat, dimana blunder yang salah mengenai perempuan masih saja asyik beredar terutama di kalangan masyarakat Indonesia kita yang berpikiran konservatif, jadi tetep aja saya ngerasain hal hal yang gak fair yang harus dialami seorang perempuan.
Coba deh inget, kalo semenjak kecil seorang anak perempuan sudah dikasih aturan-aturan yang beda sama anak laki laki. Nggak boleh duduk ngangkang lah, ngomong kasar apalagi ngomong jorok :p, harus lemah lembut lah, sampai yang hubungannya dengan mitos kayak gak boleh makan buah pisang yang paling ujung atau gak boleh duduk depan pintu. Termasuk juga beberapa kebiasaan yang di Indonesia ini masih mendarah daging ialah bahwa perempuan itu dilarang tahu apalagi membicarakan soal sex apalagi lagi nonton film film BF :p, perempuan itu harus pintar masak dan lain lainnya. Belum lagi perlakuan gak fair dari orang orang sekitar terutama kaum adam, dilecehkan baik secara verbal maupun non verbal sampai ya itu tadi yang terakhir disebut di atas bahwa menjadi perempuan berarti beresiko mengalami yang namanya perkosaan. Dan itu bener bener gak adil secara laki laki tidak harus mengalami ketakutan semacam itu.
Okelah zaman mungkin sudah ‘sedikit’ berubah. Hidup di jaman sekarang berbeda ketika menjadi perempuan dan hidup pada abad 19. Tapi…tetep aja ada orang orang (baca: cowok) yang masih juga berpikiran sempit…masih dan masih juga jadi cewek berarti sah sah aja menerima perlakuan ‘di suit in’ di tengah jalan lah, dicolak colek ma preman lah mpe dikasarin secara verbal (verbal abuse). Walah… bete banget kalo dah kayak gitu.
Apa makhluk makhluk cowok itu gak bisa ya dikit aja berhenti berpikiran jorok kalo liat perempuan???

--for you--

Cinta yang tulus
adalah...
Cinta yang tak akan luruh oleh tangis dan air mata
Takkan hilang terhimpit luka dan derita
Dan tak juga habis terkikis waktu dan asa

Dan seperti itulah adanya milikku
untukmu...

Untitled

I take a look back at the past two years and recall every single moment traced in my memory. I was there… In a point in time when my life turned out in diverse and became somewhat unusual. Circumspectly, I identify every notion left on my thought. I was there… and so was he… There was unconsciousness, recklessness…
A commencement of those days was full of ignorance… then all of a sudden things just came into an existence… I was there… reckoning every emerging signal of conviction. Such conduct carried out the heart and mind on a speculation. I decided… but my resolution seemed so weak that it got itself on some severe errors. Deepest of mind got offended by the fragile heart… and I fell.
…….
I take a look back at those times and bring to mind every single impression left on my reminiscence. He was there… Within his incomplete confusion, he stood still… He brought me the air of humanity, making me occupied with all the senses, reflexively… unconsciously.
…….
There we were… in a line of impartiality, we were lack of any chauvinism. But things must be on their own way… confirming decisive side of undeniable fate. Dreams were broken; it spoiled the brightness of passion. And here I am… so forlorn that I miserably slither on one side of life path.
Is there still any space for me to break in?